MUSLIMAHUTAMA

Wanita Islam Dijaga, Maka Ia Pun Menjaga Dirinya

Wanita Islam Dijaga, Maka Ia Pun Menjaga Dirinya

Oleh: Bangun Lubis (Wartawan Muslim)

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Dalam Islam, wanita adalah makhluk yang dimuliakan. Ia dijaga oleh syariat, dilindungi oleh hukum, dan dihormati oleh nilai-nilai ilahiah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Namun penjagaan itu bukanlah jalan satu arah.

Ketika Islam menjaga wanita dengan penuh kehormatan, maka pada saat yang sama Islam juga menuntut wanita untuk menjaga dirinya sendiri—dengan iman, adab, dan kesadaran spiritual.

Inilah keseimbangan agung dalam Islam: dijaga dan menjaga.

Islam Menjaga Wanita dengan Kehormatan

Sejak awal, Islam hadir untuk mengangkat martabat wanita dari keterpurukan sosial. Pada masa jahiliah, wanita diperlakukan sebagai barang, bahkan anak perempuan dianggap aib. Islam datang memutus rantai kezaliman itu. Wanita diakui sebagai manusia seutuhnya, hamba Allah yang memiliki tanggung jawab dan kemuliaan.

Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Ayat ini sering disalahpahami sebagai bentuk pembatasan. Padahal, esensinya adalah perlindungan—agar wanita tidak dijadikan objek pandangan, eksploitasi, atau komoditas nafsu. Islam menjaga wanita dari kerasnya dunia yang sering kali tidak ramah.

Penjagaan Itu Adalah Amanah

Baca Juga  Menunda Taubat, Menyimpan Penyesalan di Alam Kubur

Namun penjagaan dari luar tidak akan sempurna tanpa penjagaan dari dalam. Islam tidak memposisikan wanita sebagai makhluk pasif yang hanya “dijaga”, melainkan sebagai subjek beriman yang sadar akan kehormatannya.

Allah SWT menegaskan: “Katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…” (QS. An-Nur: 31)

Menjaga diri dalam Islam bukan semata urusan pakaian, tetapi mencakup hati, pandangan, ucapan, sikap, dan pilihan hidup. Hijab bukan hanya kain yang menutup tubuh, melainkan kesadaran yang menutup pintu-pintu dosa.

Seorang wanita yang memahami kemuliaannya tidak akan rela merendahkan dirinya—baik dengan sikap, perilaku, maupun pilihan yang menjauhkan dirinya dari ridha Allah.

Menjaga Diri Adalah Bentuk Syukur

Ketika seorang wanita menjaga kehormatannya, sejatinya ia sedang bersyukur atas penjagaan Allah. Ia sadar bahwa dirinya bukan milik dunia, bukan milik tren, dan bukan milik selera pasar. Ia adalah milik Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

Wanita shalihah bukanlah wanita yang terkungkung, tetapi wanita yang mampu mengendalikan dirinya di tengah derasnya godaan. Ia kuat bukan karena meniru laki-laki, tetapi karena teguh memegang nilai.

Menjaga Diri di Zaman yang Tidak Menjaga

Baca Juga  Mau Melaksanakan Umrah, Apa yang Tidak Mungkin

Hari ini, dunia sering berbicara tentang kebebasan wanita, tetapi pada saat yang sama menelanjangi martabat mereka. Tubuh wanita diperdagangkan dalam iklan, konten, dan industri hiburan. Ironisnya, semua itu dibungkus dengan kata “hak” dan “kebebasan”.

Islam berdiri di posisi yang jujur dan tegas: wanita terlalu mulia untuk dipermainkan.

Karena itu, ketika Islam meminta wanita menjaga diri, itu bukan pengekangan, melainkan pembebasan dari perbudakan modern—perbudakan terhadap pandangan manusia, likes, dan validasi semu.

Teladan Muslimah Sejati

Sejarah Islam penuh dengan teladan wanita yang dijaga dan menjaga dirinya. Maryam ‘alaihas-salam menjaga kesucian hingga Allah mengangkat namanya dalam Al-Qur’an. Khadijah radhiyallahu ‘anha menjaga kehormatan dan keimanannya hingga menjadi penopang dakwah Rasulullah ﷺ. Aisyah radhiyallahu ‘anha menjaga ilmu dan adab hingga menjadi rujukan umat.

Mereka tidak kehilangan peran publik, tidak kehilangan kecerdasan, dan tidak kehilangan pengaruh—justru karena mereka menjaga diri.

Wanita Islam dijaga oleh syariat, oleh nilai, dan oleh cinta Allah. Maka sudah sepatutnya ia pun menjaga dirinya—bukan karena takut kepada manusia, tetapi karena cinta kepada Tuhannya.

Sebab kehormatan adalah mahkota. Dan wanita beriman tahu, mahkota tidak diletakkan di tanah dunia, melainkan dijaga di ketinggian iman.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button