Madinah — Kota Haram yang Diberkahi dan Disayangi Rasulullah ﷺ

Dilaporkan Asep Suhendar – Pendamping Jamaah Privat Mega Wisata
Ada sesuatu yang berbeda dari Madinah. Begitu kaki menapakkan tanahnya, hati seolah tersentuh kelembutan yang tak dapat dijelaskan oleh kata.
Udara di sana terasa damai, langkah menjadi ringan, dan setiap detik seolah penuh makna. Bukan tanpa alasan, sebab Madinah bukan kota biasa. Ia adalah kota yang dimuliakan Allah dan dicintai Rasulullah ﷺ dengan kecintaan yang mendalam.

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa tanah Madinah adalah tanah *haram*, tanah yang dijaga kehormatannya oleh Allah SWT sebagaimana Makkah. Dalam sebuah hadis sahih, beliau bersabda:
> “Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Makkah sebagai tanah haram, dan aku pun menjadikan Madinah sebagai tanah haram, yaitu antara dua bukitnya. Tidak boleh ditebang pohonnya, dan tidak boleh diburu binatangnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan sabda itu, Madinah memperoleh kedudukan mulia. Tidak hanya secara geografis, tetapi secara spiritual. Di tanah ini, hukum dan norma dijunjung tinggi. Setiap maksiat terasa berat dilakukan, dan setiap amal kebaikan terasa mudah dikerjakan. Seakan ada kekuatan gaib yang menjaga, sebagaimana doa Rasulullah ﷺ yang selalu memohon keberkahan bagi kota ini.

Kota yang Dijaga dan Didoakan
Rasulullah ﷺ pernah berdoa:
“Ya Allah, jadikanlah Madinah bagi kami sebagaimana Engkau menjadikan Makkah sebagai tanah haram, bahkan lebih lagi dalam hal keberkahannya.”(HR. Bukhari)*
Doa ini menggambarkan betapa besar kasih beliau kepada Madinah. Di kota inilah Islam tumbuh dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di sinilah kaum Muhajirin menemukan tempat perlindungan, dan kaum Anshar menorehkan sejarah persaudaraan yang tak terlupakan.
Sejak saat itu, Madinah menjadi pusat peradaban Islam. Di jalan-jalan kotanya, pernah berjalan para sahabat besar — Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan ribuan pejuang iman. Dari masjid Nabawi, pancaran cahaya dakwah menerangi dunia. Dan hingga kini, meski waktu telah berganti abad, nuansa kedamaian itu tetap terasa.

Syafaat bagi yang Bersabar di Madinah
Keistimewaan Madinah tidak berhenti pada kemuliaan sejarahnya. Allah menjadikannya sebagai tempat yang memberikan syafaat bagi orang-orang yang setia dan sabar di dalamnya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang sabar atas kesulitan di Madinah, maka aku akan menjadi pemberi syafaat baginya pada hari kiamat.”(HR. Tirmidzi)*
Betapa besar janji itu. Kesabaran menghadapi panasnya siang, kerasnya hidup, atau berbagai ujian di kota suci ini, semuanya akan berbuah kemuliaan di akhirat. Karena mencintai Madinah bukan sekadar perasaan, tetapi juga bentuk keimanan dan keteguhan hati untuk tetap dekat dengan Rasulullah ﷺ, walau hanya dengan rindu dan doa.

Cinta yang Tak Pernah Padam
Madinah juga menjadi tempat yang dirindukan setiap Muslim. Siapa pun yang pernah berziarah ke sana akan membawa pulang kenangan yang sulit dilupakan. Suara azan dari menara Masjid Nabawi, aroma kayu gaharu di sekitar Raudhah, dan ketenangan saat menatap makam Rasulullah ﷺ — semuanya menanamkan cinta yang halus di hati.
Para ulama menyebut, kecintaan kepada Madinah adalah tanda cinta kepada Rasulullah ﷺ. Karena di sanalah beliau hidup, berjuang, dan dimakamkan. Dan di sanalah pula umat Islam mengirimkan salam dan shalawat yang tidak pernah berhenti hingga akhir zaman.
Madinah bukan hanya kota bersejarah. Ia adalah simbol kasih Allah dan tempat berlabuhnya kerinduan umat Islam di seluruh dunia. Setiap detik di Madinah adalah ibadah, setiap langkah adalah doa.
Barang siapa mencintainya, menjaga adabnya, dan bersabar di dalamnya, maka Rasulullah ﷺ telah menjanjikan syafaat baginya di hari yang tidak ada pertolongan selain dari Allah.
Madinah — tanah haram yang diberkahi, kota cinta Rasulullah ﷺ, dan surga kecil yang diselimuti kedamaian dari langit.
Editor: @bangbangunlubis



