
Mega Wisata Gelar Manasik Haji Khusus, Bekali Jamaah dengan Ilmu, Kesehatan, dan Ketenangan Hati

Palembang — Mega Wisata kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan terbaik kepada para tamu Allah dengan menggelar kegiatan manasik haji khusus selama tiga hari, dimulai pada Kamis (16/04/2026) hingga Sabtu (18/04/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Beston Hotel Palembang ini diikuti oleh para calon jamaah dengan penuh semangat dan kekhusyukan. Bagi mereka, manasik bukan sekadar agenda rutin sebelum keberangkatan, melainkan perjalanan awal menuju kesempurnaan ibadah haji—ibadah yang menjadi impian setiap Muslim.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:”Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…”* (QS. Al-Baqarah: 196).
Ayat ini menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya tentang perjalanan fisik, tetapi juga kesiapan ilmu, mental, dan hati. Inilah yang menjadi dasar utama Mega Wisata dalam menyelenggarakan manasik secara terstruktur dan mendalam.

Pada hari pertama (Day 1), para jamaah mendapatkan pembekalan dari para pemateri yang kompeten di bidangnya. Materi dibuka oleh Ustadz Abu Hamzah dengan tema *“Problematika Ibadah Haji & Solusinya”*. Dalam penyampaiannya, beliau mengurai berbagai persoalan yang sering dihadapi jamaah, mulai dari kendala teknis hingga tantangan spiritual, serta memberikan solusi yang bersumber dari tuntunan syariat.
Suasana menjadi semakin hidup ketika Ustadz Edy Purwanto menyampaikan materi “Keutamaan Doa & Dzikir”. Ia mengajak jamaah untuk menjadikan doa dan dzikir sebagai kekuatan utama dalam setiap langkah. “Haji bukan sekadar perjalanan badan, tetapi perjalanan hati yang dipenuhi dengan ingatan kepada Allah,” ungkapnya.
Pesan ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
“Doa adalah inti dari ibadah.”* (HR. Tirmidzi).
Materi berikutnya disampaikan oleh Buya Henry yang mengupas secara rinci teknis operasional perjalanan haji. Penjelasan yang sistematis membantu jamaah memahami alur kegiatan, mulai dari keberangkatan, pelaksanaan ibadah di Makkah dan Madinah, hingga kepulangan ke tanah air. Bagi banyak jamaah, pemahaman ini menghadirkan rasa tenang karena mereka mengetahui apa yang akan dihadapi.
Sementara itu, aspek kesehatan menjadi perhatian serius dalam manasik ini. Dr. Yulius Fitora memberikan pembekalan tentang pentingnya menjaga kondisi fisik selama menjalankan ibadah haji. Ia menekankan bahwa ibadah haji membutuhkan stamina yang baik, mengingat rangkaian ibadah yang padat dan kondisi cuaca yang berbeda.
“Menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar agar ibadah dapat dilakukan secara maksimal,” jelasnya.
Dalam Islam, menjaga kesehatan memang menjadi bagian dari tanggung jawab seorang Muslim. Rasulullah SAW bersabda:
*”Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya tetap ada kebaikan.”* (HR. Muslim).
Kegiatan manasik ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah di antara jamaah. Mereka saling mengenal, saling mendoakan, dan bersama-sama menata niat untuk menjadi tamu Allah yang mabrur.
Mega Wisata memahami bahwa perjalanan haji adalah perjalanan suci yang membutuhkan persiapan yang matang. Oleh karena itu, manasik ini dirancang tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual dan emosional jamaah.
Dengan manasik yang berkesinambungan hingga hari ketiga, diharapkan para jamaah dapat berangkat dengan hati yang mantap, ilmu yang cukup, serta fisik yang siap.
Pada akhirnya, harapan terbesar dari seluruh rangkaian ini adalah terwujudnya haji yang mabrur—sebuah ibadah yang tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga mengubah kehidupan menjadi lebih baik.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:”Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan di sanalah, setiap langkah, setiap doa, dan setiap air mata dalam perjalanan haji menemukan maknanya yang paling dalam.
Reporter : Dody dan Atin
Editor: Bang Bangun



