Menjaga Kehormatan: Pilar Iman di Tengah Arus Zaman

MyMegawisata.com – Di tengah derasnya arus budaya yang permisif — yang menghalalkan segala demi popularitas, yang menormalisasi yang tak pantas atas nama ekspresi — kita, umat Islam, justru dituntut untuk semakin teguh menjaga kehormatan diri.
Dalam Islam, kehormatan (العِرض / *al-‘irdh*) bukan sekadar soal aurat atau pergaulan, melainkan tentang martabat seorang mukmin. Ia tercermin dari tutur katanya, sikapnya, pakaiannya, hingga jejak digitalnya di dunia maya. Kehormatan adalah wajah dari iman, dan cermin dari takwa.
“Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan dua kakinya, maka aku akan menjamin surga untuknya.” Hadis Riwayat Bukhari
Begitu tinggi nilai kehormatan dalam Islam, hingga Rasulullah ﷺ mengaitkannya langsung dengan jaminan surga. Menjaga lisan dan menjaga kemaluan — dua hal yang menjadi gerbang antara kemuliaan dan kehinaan.
Saat Dunia Memamerkan, Islam Menjaga
Ustadz Beny Subandri dan H. Bangun Lubis, penulis dan pengasuh kajian dakwah, pernah menyampaikan dalam tausiyahnya di Masjid Nurul Hidayah, Palembang:
Zaman ini menuntut kita bukan hanya untuk bertakwa, tetapi juga cerdas menjaga martabat. Jangan biarkan kehormatan tergadaikan oleh hasrat sesaat, konten viral, atau rayuan yang menyesatkan.”
Ayat demi ayat dalam Al-Qur’an menegaskan hal ini. Dalam QS. An-Nur ayat 30–31, Allah memerintahkan lelaki dan perempuan yang beriman untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya. Sebuah perintah agung yang bukan membatasi, melainkan menjaga kemuliaan manusia
“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak-anak Adam…”(QS. Al-Isra: 70)*
Malu adalah Mahkota Iman
Kita hidup di zaman di mana rasa malu dianggap kuno, kehormatan dianggap tidak penting, dan martabat mudah ditukar dengan like dan komentar.
Namun Rasulullah ﷺ bersabda:”Malu adalah cabang dari iman.”(HR. Muslim)*
Malu bukan kelemahan. Ia adalah pelindung dari kehinaan. Ia adalah cahaya di tengah kegelapan arus zaman.
Mari Kembali Menjaga Kehormatan, bukan untuk dipertontonkan. Ia untuk dijaga diselubungi kesadaran, dibingkai adab, dan dijaga dalam kesunyian serta keramaian.
Mari seluruh pembaca untuk menjadikan menjaga kehormatan diri sebagai komitmen hidup.
Sekali kehormatan ternoda, sulit untuk mengembalikannya seperti semula. Maka waspadalah dalam berkata, berhati-hatilah dalam bersikap, dan bijaklah dalam berpakaian serta bermedia sosial.
Mari kita mulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Karena dakwah menjaga kehormatan adalah dakwah membangun kembali peradaban Islam yang mulia— martabat diri.
▪︎Bangun Lubis




