UTAMA

Nikmat I’tikaf di Sepuluh Malam Terakhir di Masjidil Haram

Nikmat I’tikaf di Sepuluh Malam Terakhir di Masjidil Haram

 

MyMegaWisata.com – Betapa nikmat dan bahagianya jamaah Mega Wisata dapat menikmati suasana ibadah di kawasan Masjidil Haram pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Di tempat yang paling suci di muka bumi ini, para jamaah merasakan ketenangan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Di bawah bimbingan Ustadz Abu Hamzah bersama putra beliau Ustadz Hamzah jamaah menjalani rangkaian ibadah i’tikaf dengan penuh kekhusyukan.

Malam-malam Ramadhan di Masjidil Haram memang memiliki keistimewaan tersendiri. Ribuan bahkan jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia berkumpul dalam satu tujuan yang sama: mencari ridha Allah dan menggapai keberkahan malam Lailatul Qadar.

Suasana itu benar-benar menyentuh hati. Di setiap sudut masjid, tampak orang-orang tenggelam dalam doa, membaca Al-Qur’an, berzikir, atau sekadar duduk merenungi kebesaran Allah. Tidak ada hiruk pikuk dunia. Yang terdengar hanyalah lantunan ayat suci dan bisikan doa yang keluar dari hati yang penuh harap.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1–3)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa malam-malam yang sedang dijalani para jamaah di Masjidil Haram adalah malam yang sangat mulia. Satu malam saja di antara sepuluh malam terakhir ini bisa lebih bernilai daripada ibadah selama delapan puluh tiga tahun.

Baca Juga  Laksanakan Kebaikan Sebagaimana yang Dikehendaki Allah

Karena itu, para jamaah Mega Wisata benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Setelah melaksanakan shalat Isya dan Tarawih berjamaah, mereka melanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an, qiyamul lail, berzikir, serta memperbanyak doa.

Ustadz Abu Hamzah dalam bimbingannya mengingatkan para jamaah agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat langka ini.

“Sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah malam-malam terbaik dalam setahun. Rasulullah ﷺ sendiri lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam-malam ini dibandingkan malam lainnya,” ujar beliau.

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Rasulullah ﷺ apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bimbingan yang diberikan Ustadz Abu Hamzah bersama Ustadz Hamzah membuat jamaah merasa lebih terarah dalam menjalankan ibadah. Mereka tidak sekadar berada di Masjidil Haram, tetapi benar-benar memanfaatkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Bagi banyak jamaah, kesempatan ber-i’tikaf di Masjidil Haram adalah impian yang selama ini hanya ada dalam doa. Kini, Allah memperkenankan mereka duduk di hadapan Ka’bah, membaca Al-Qur’an di bawah langit Makkah, dan memohon ampunan di tempat yang paling mustajab untuk berdoa.

Baca Juga  Umroh Manjadi Fenomena Baru, Ketimbang Liburan Ke Negara Lain

Rasa haru sering kali tak tertahankan. Ada jamaah yang menitikkan air mata ketika memandang Ka’bah, menyadari betapa besar nikmat yang Allah berikan.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”* (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi motivasi besar bagi para jamaah untuk terus menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah.

Program i’tikaf Mega Wisata sendiri memang dirancang agar jamaah dapat merasakan kedalaman ibadah di Tanah Suci. Tidak sekadar melaksanakan umrah, tetapi juga memperbanyak ibadah, mendekatkan diri kepada Allah, serta merasakan suasana spiritual yang begitu kuat di Masjidil Haram.

Malam demi malam berlalu dengan penuh makna. Waktu terasa cepat, tetapi hati terasa semakin lapang. Di hadapan Ka’bah, manusia menyadari bahwa hidup ini sangat singkat, sementara kesempatan untuk berbuat baik harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Semoga Allah menerima seluruh ibadah jamaah Mega Wisata, mengampuni dosa-dosa mereka, dan mempertemukan mereka dengan malam Lailatul Qadar.

Karena sesungguhnya, kebahagiaan terbesar seorang hamba bukanlah ketika ia memiliki banyak harta, tetapi ketika Allah memberi kesempatan kepadanya untuk beribadah di rumah-Nya dan merasakan manisnya iman di dalam hati.

Editor: Bangun Lubis

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button