
Tradisi Menikmati Nasi Briyani dan Nasi Mandi di Thaif: Jamaah Mega Wisata 14 Agustus 2025 Rasakan Nikmatnya
MyMegawisata.com, Thaif — Jamaah umrah Mega Wisata grup keberangkatan 14 Agustus 2025 kini telah menjejakkan kaki di kota indah Thaif, sebuah daerah pegunungan yang terkenal dengan udara sejuk, kebun anggur, serta sejarah dakwah Rasulullah ﷺ.
Selain wisata sejarah dan ziarah, ada satu tradisi yang hampir selalu dilakukan jamaah Mega Wisata setiap kali singgah di Thaif, yakni menikmati sajian khas nasi briyani dan nasi mandi. Inilah momen yang tak hanya sekadar santap, tetapi menjadi bagian dari perjalanan ruhani dan budaya.
Makanan yang Mengikat Persaudaraan
Nasi briyani dan nasi mandi bukan hanya hidangan lezat, melainkan juga simbol persaudaraan umat Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Makanan dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan tiga orang cukup untuk empat orang.”* (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa makanan bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi untuk mempererat hati.
Saat jamaah Mega Wisata duduk bersama, berbagi satu nampan besar nasi briyani atau mandi, tercerminlah sunnah kebersamaan dan ukhuwah Islami.
Sejarah dan Asal Usul Nasi Mandi & Briyani
Nasi mandi diyakini berasal dari Yaman, kemudian menyebar ke Hijaz termasuk Thaif, sementara briyani banyak dipengaruhi budaya India dan Persia. Kedua hidangan ini kemudian menjadi favorit di jazirah Arab, termasuk kota Thaif yang dikenal sebagai “kota kebun” dan persinggahan dagang sejak dahulu.

Al-Imam Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyinggung tentang peradaban yang berkembang melalui perdagangan dan percampuran budaya, termasuk dalam soal makanan. Tak heran jika di Thaif kita bisa merasakan cita rasa Yaman, India, hingga Persia dalam satu sajian yang berpadu indah.
Tradisi Mega Wisata di Thaif
Bagi jamaah Mega Wisata, tradisi makan nasi briyani atau mandi di Thaif menjadi penutup manis setelah berziarah ke tempat-tempat bersejarah, seperti Masjid Addas — tempat seorang pemuda Nasrani memberi buah anggur kepada Nabi ﷺ ketika beliau diusir dan disakiti oleh penduduk Thaif.

Saat itu, Rasulullah ﷺ justru berdoa:
“Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”(HR. Bukhari-Muslim)
Momen doa itu menjadi pengingat bahwa Thaif bukan hanya tentang kuliner, tetapi juga tentang keteguhan hati Rasulullah ﷺ dalam berdakwah.
Kini, jamaah Mega Wisata merasakan keberkahan perjalanan dengan menutupnya dengan santapan yang menyatukan, seakan ingin berkata: inilah cara kami merayakan ukhuwah dan dakwah di tanah suci*.

Beberapa jamaah pun menyampaikan kesan mereka.
*”Subhanallah, makan di Thaif ini luar biasa nikmatnya. Bukan hanya rasanya, tetapi kebersamaan yang tercipta. Rasanya hati ini kian dekat dengan saudara-saudara seiman,”* ujar salah jamaah, Sasliansah, dengan wajah berseri.
Yang lain, Hadi, menambahkan: “Tradisi Mega Wisata mengajak jamaah makan nasi briyani di Thaif ini sungguh berkesan. Setiap suapannya menjadi pengingat bahwa Islam mengajarkan persaudaraan.”

Perjalanan ke Thaif bersama Mega Wisata tidak sekadar menapaki sejarah, melainkan juga menumbuhkan rasa syukur melalui makanan yang penuh makna. Nasi briyani dan mandi bukan hanya tradisi kuliner, melainkan jembatan ukhuwah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al-Maidah: 88)
Maka setiap suapan nasi di Thaif, sesungguhnya adalah suapan syukur, ukhuwah, dan doa agar perjalanan ibadah ini semakin berkah dan diridhai Allah Ta’ala.
Editor: Bangun Lubis




