.

Gelisah Mang Cek Raden di Hari Lebaran

Pagi Lebaran itu, takbir berkumandang merdu di langit kampung. Anak-anak berlarian dengan baju baru, orang-orang saling bersalaman penuh suka cita.

Namun, Mang Cek Raden duduk diam di berandanya.

Ia tersenyum… tapi matanya basah.

“Semua tampak bahagia… tapi kenapa hatiku justru terasa kosong?” gumamnya.

Ia teringat firman Allah:

“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra’d: 28)

Barulah ia sadar… selama ini ia merayakan Lebaran, tapi lupa menghadirkan Allah dalam hatinya.

Perlahan ia bangkit. Mengangkat tangan.

“Ya Allah… jangan biarkan aku hanya merayakan, tapi lupa kembali…”

Baca Juga  Ngélingké di Bulan Puaso

Di pagi yang fitri itu, Mang Cek Raden akhirnya menemukan makna:

Bahwa Lebaran bukan sekadar hari kemenangan…

tetapi hari untuk kembali—dengan hati yang benar-benar pulang. [ bbl ]

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button