UMROH

Tak Ingin Waktu Terbuang, Jamaah Mega Wisata Pukul 02.00 Menuju Masjidil Haram

Pukul 02.00 Dini Hari, Jamaah Mega Wisata Berbondong ke Masjidil Haram: Kak Ongki 68 Tahun Tak Mau Ketinggalan

Pukul 02.00 Dini Hari, Jamaah Mega Wisata Berbondong ke Masjidil Haram: Kak Ongki 68 Tahun Tak Mau Ketinggalan

 

MyMegawisata.com,, MAKKAH — Ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam tidur, suasana di hotel tempat jamaah Mega Wisata menginap mulai bergerak. Jam menunjukkan sekitar pukul 02.00 dini hari, Sabtu. Sejumlah jamaah telah bangun, bersiap dan mengenakan pakaian terbaik mereka untuk menuju Masjidil Haram.

Mereka bukan hendak mengejar urusan dunia. Mereka datang untuk melaksanakan tawaf sunnah dan salat tahajud.

Jamaah Mega Wisata yang berangkat pada 26 Agustus 2026 itu sebelumnya telah menyelesaikan rangkaian umrah wajib. Namun, selesainya umrah wajib ternyata tidak membuat semangat ibadah mereka berhenti. Justru kesempatan berada di Kota Makkah dimanfaatkan untuk memperbanyak amal ibadah.

“Kalau sudah sampai di Makkah, rasanya sayang kalau waktunya hanya digunakan untuk tidur. Kita sudah jauh-jauh datang ke sini untuk beribadah,” ujar salah seorang jamaah.

Yang menarik, semangat tersebut tidak hanya terlihat dari jamaah muda. Jamaah yang sudah lanjut usia pun menunjukkan tekad yang luar biasa.

Salah satunya adalah Kak Ongki, jamaah yang telah berusia 68 tahun. Ketika mengetahui teman sekamarnya yang masih berusia 38 tahun hendak berangkat ke Masjidil Haram, Kak Ongki tidak mau tinggal di kamar.

Ia memilih ikut bersama temannya.

“Saya tidak mau tinggal. Kalau masih diberikan kemampuan, saya ingin ke Masjidil Haram. Minimal salat tahajud dan kalau kuat ikut tawaf sunnah. Mumpung kita ada di Makkah,” ujar Kak Ongki.

Bagi Kak Ongki, usia bukan alasan untuk kehilangan kesempatan beribadah.

Baca Juga  Ibu Salwaty Ajak Masyarakat Segerakan Niat Berhaji Melalui Program Haji Khusus Mega Wisata

“Saya memang sudah 68 tahun. Tenaga mungkin tidak seperti yang muda. Tetapi selama masih bisa berjalan dan masih diberikan kesehatan, saya ingin memanfaatkan kesempatan ini,” katanya.

Pemandangan yang tidak kalah menarik terlihat dari Ibrahim àliàs Baim, jamaah berusia 37 tahun. Ia tidak hanya memikirkan ibadah dirinya sendiri, tetapi juga mengajak putranya yang masih duduk di kelas 3 SMP, Nizam Ibrahim untuk ikut ke Masjidil Haram.

Pada dini hari itu, Ibrahim alias Baim bersama putranya ikut melaksanakan tawaf sunnah dan salat tahajud.

“Saya mengajak anak saya supaya sejak muda sudah terbiasa mencintai Masjidil Haram dan ibadah. Kesempatan seperti ini jangan disia-siakan,” kata Ibrahim.

Menurutnya, pengalaman tersebut diharapkan menjadi kenangan sekaligus pendidikan agama yang kuat bagi putranya.

“Biar dia merasakan sendiri suasana Masjidil Haram pada malam hari. Mudah-mudahan setelah pulang nanti semangat ibadahnya semakin kuat,” ujarnya.

Semangat jamaah tersebut mendapat perhatian dari tim Mega Wisata. Baik pembimbing maupun tour leader sejak awal memang terus memberikan motivasi kepada jamaah agar mencintai ibadah dan senang datang ke Masjidil Haram.

Team leader Mega Wisata mengatakan, motivasi tersebut bukan berarti jamaah harus memaksakan diri. Kondisi kesehatan tetap menjadi perhatian utama.

“Kami terus mendorong jamaah supaya menyenangi ibadah di Masjidil Haram. Tetapi kami juga selalu mengingatkan agar mereka menjaga kondisi fisik. Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, nyaman dan sesuai kemampuan,” ujarnya.

Menurutnya, jamaah juga diberikan pemahaman mengenai besarnya keutamaan salat di Masjidil Haram. Dalam hadis disebutkan bahwa salat di Masjidil Haram memiliki keutamaan hingga 100.000 kali dibandingkan salat di masjid lainnya.

Baca Juga  Jamaah Umroh Mega Wisata Grup 29 Juli Rampungkan Ibadah Inti Umroh di Masjidil Haram

“Keutamaan itu kami sampaikan supaya jamaah menyadari betapa berharganya kesempatan berada di sini. Bukan berarti kita hanya mengejar hitungan pahala, tetapi agar hati kita terdorong untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya,” katanya.

Ia berharap semangat tersebut tidak berhenti ketika jamaah kembali ke Indonesia.

“Yang paling penting adalah bagaimana pengalaman selama di Makkah menjadi motivasi setelah mereka pulang. Kalau di sini mereka terbiasa bangun malam, salat, tawaf dan berdoa, mudah-mudahan kebiasaan itu bisa terus dilakukan di rumah,” ujarnya.

Dini hari itu menjadi gambaran bagaimana jamaah Mega Wisata memaknai perjalanan umrah. Ada jamaah berusia 68 tahun yang tidak mau kalah dengan anak muda. Ada Ibrahim yang mengajak putranya yang masih kelas 3 SMP. Ada pula jamaah ibu-ibu yang begitu bersemangat untuk ikut ke Masjidil Haram.

Mereka semua memiliki satu semangat yang sama: jangan sia-siakan kesempatan ketika Allah memberikan kesempatan menjadi tamu-Nya.

Sebab, berada di Makkah bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan hati.

Setiap langkah menuju Masjidil Haram menjadi kesempatan mendekat kepada Allah. Setiap putaran tawaf menjadi ruang untuk bermunajat. Setiap rakaat salat menjadi kesempatan memperbanyak amal.

Dan pada pukul 02.00 dini hari itu, ketika sebagian besar dunia masih terdiam dalam tidur, langkah jamaah Mega Wisata justru bergerak menuju Baitullah.

Mereka datang bukan untuk mencari waktu senggang. Mereka datang untuk mengisi waktu dengan ibadah, berharap seluruh perjalanan menjadi umrah yang mabrur dan membawa perubahan ketika kembali ke Tanah Air.

Editor: Bang Bangun Lubis

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button