Jangan Hanya Bermimpi Umrah, Buat Rencana Ketat Menuju Baitullah
Iringilah antara haji dan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana alat peniup api menghilangkan kotoran besi.”(HR. Tirmidzi dan An-Nasa'i)

Jangan Hanya Bermimpi Umrah, Buat Rencana Ketat Menuju Baitullah

Banyak orang memiliki keinginan menunaikan ibadah umrah. Setiap kali melihat Ka’bah melalui foto, video atau cerita jamaah yang baru pulang dari Tanah Suci, hati terasa bergetar. Ada keinginan kuat untuk berada di depan Ka’bah, melaksanakan tawaf, sa’i, berdoa dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Namun, keinginan saja tidak cukup. Jika umrah benar-benar menjadi cita-cita, maka harus dibuat rencana yang nyata dan disiplin. Jangan hanya berkata, “Saya ingin umrah kalau sudah punya uang.” Sebab, kalau menunggu uang berlebih, keinginan itu bisa terus tertunda.
Umrah memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah SAW bersabda bahwa antara satu umrah dengan umrah berikutnya menjadi kafarat bagi dosa-dosa yang dilakukan di antara keduanya.
Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda:
“Iringilah antara haji dan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana alat peniup api menghilangkan kotoran besi.”(HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)
Hadis ini memberikan motivasi besar kepada umat Islam untuk tidak takut mengusahakan ibadah haji dan umrah. Akan tetapi, maknanya jangan dipahami sebagai jaminan bahwa setiap orang yang umrah pasti langsung menjadi kaya. Rezeki tetap merupakan ketetapan Allah SWT. Umrah adalah ibadah dan dapat menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan serta kecukupan apabila disertai ketakwaan dan usaha yang benar.
Allah SWT berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”QS. Ath-Thalaq (65):2–3.
Karena itu, kalau hati sudah ingin menjadi tamu Allah, mulailah membuat rencana ketat menuju Baitullah
Pertama, tentukan target keberangkatan. Misalnya satu atau dua tahun ke depan. Setelah itu tentukan target biaya berdasarkan kemampuan dan program yang dipilih. Jangan hanya menghitung harga paket, tetapi perhitungkan pula kebutuhan pribadi, dokumen, perlengkapan dan dana cadangan.
Kedua, pisahkan tabungan umrah dari uang kebutuhan sehari-hari. Bila memungkinkan, gunakan rekening khusus. Begitu menerima penghasilan, langsung sisihkan sejumlah uang untuk umrah. Jangan menunggu uang tersisa di akhir bulan karena biasanya kebutuhan lain akan lebih dahulu menghabiskannya.
Ketiga, pangkas pengeluaran yang tidak penting. Kebiasaan membeli sesuatu karena keinginan, terlalu sering makan di luar, nongkrong, atau mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sebenarnya dapat ditunda, bisa dikurangi. Uang tersebut dialihkan sedikit demi sedikit menjadi tabungan Baitullah.
Keempat, carilah penghasilan tambahan. Setiap orang memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan. Berdagang, menulis, mengajar, menjual produk, bekerja secara lepas atau usaha kecil dapat menjadi ikhtiar tambahan. Jika ada penghasilan tambahan, sebagian besar dapat langsung dimasukkan ke tabungan umrah.
Kelima, jangan pernah meninggalkan doa. Setelah melakukan ikhtiar, mintalah kepada Allah agar dimudahkan. Berdoalah setelah salat, pada waktu tahajud, antara azan dan iqamah, serta pada waktu-waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak doa.
Allah SWT berfirman:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu.”QS. Ghafir (40):60.
Umrah juga bukan sekadar perjalanan wisata. Ia adalah perjalanan spiritual untuk membersihkan hati, memperbanyak istighfar dan memperbaiki kehidupan setelah kembali ke Tanah Air.
Maka, jangan merasa terlalu miskin untuk bermimpi menjadi tamu Allah. Jangan pula merasa terlalu sibuk untuk memulai persiapan. Bisa jadi langkah menuju Baitullah dimulai dari sesuatu yang sederhana: menyisihkan uang setiap hari, mengurangi pengeluaran, memperbaiki ibadah dan memperbanyak doa.
Jika target biaya Rp30 juta dan waktu yang direncanakan 24 bulan, misalnya, diperlukan rata-rata sekitar Rp1,25 juta setiap bulan. Bila kemampuan belum sampai angka tersebut, jangan berhenti. Sesuaikan target waktu, tingkatkan penghasilan dan terus berusaha.
Yang terpenting adalah niat yang ikhlas, cara mendapatkan biaya yang halal, perencanaan yang disiplin dan tawakal kepada Allah.
Jangan hanya menunggu panggilan. Persiapkan diri agar ketika kesempatan datang, kita sudah siap berangkat.
Semoga Allah SWT menghapus dosa-dosa kita, melapangkan rezeki, mengabulkan doa-doa yang baik dan memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi tamu-Nya di Masjidil Haram.
Allahumma labbaik. Semoga suatu hari kaki kita benar-benar sampai di Baitullah. Aamiin.
@Bangbangunlubis




