Menjemput Sejuk di Danau Teluk Gelam: Oase Hijau Sumsel yang Merindukan Langkah Pengunjung
Mutiara hijau Sumsel ini bercerita tentang keheningan yang panjang.

Menjemput Sejuk di Teluk Gelam dan Ranau: Oase Hijau Sumsel yang Merindukan Langkah Pengunjung

Oleh: Bangun Lubis
Langkah kaki ini disambut oleh deru angin yang melintasi permukaan air. Di hadapan mata, terhampar sebuah telaga raksasa yang tenang, memantulkan warna langit yang biru bersih. Di tepiannya, barisan pepohonan berdiri kokoh, menciptakan kanopi hijau yang teduh. Inilah Danau Teluk Gelam, sebuah lanskap alam yang berada di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Bagi siapa saja yang terbiasa dengan hiruk-pikuk dan kepulan asap kota besar, tempat ini terasa seperti sebuah kemewahan yang tersembunyi di bumi Sumsel.
Sore itu, matahari mulai condong ke barat, memancarkan semburat warna keemasan di atas riak air. Suasananya begitu sunyi, hanya ada suara kepakan sayap burung air yang melintas rendah dan gesekan dedaunan. Namun, jurnalisme tidak hanya mencatat hari-hari penuh keindahan. Jurnalisme yang hidup adalah jurnalisme yang berani berjalan ke belakang panggung, melihat apa yang tersisa ketika perhatian publik mulai berpaling. Dan hari ini, salah satu mutiara hijau Sumsel ini bercerita tentang keheningan yang panjang.
Potensi yang Menanti Sentuhan Kembali
Secara geografis, Danau Teluk Gelam sebenarnya memiliki modal alam yang luar biasa. Airnya yang melimpah dikelilingi oleh daratan yang luas, menjadikannya paru-paru hijau yang sangat penting bagi wilayah sekitarnya. Jika kita berjalan lebih dalam ke area daratannya, hamparan vegetasi yang masih asri memberikan jaminan bahwa ekosistem di sini masih terjaga dengan baik. Udara yang dihirup pun terasa begitu bersih, bebas dari polusi yang menyiksa dada.
“Dulu di sini ramai sekali, Pak. Kalau akhir pekan, banyak keluarga yang datang membawa tikar, menggelar makanan di bawah pohon,” ujar seorang warga lokal, Jumadi (51), yang memarkir perahu kayunya di dekat dermaga tua itu. Nada suaranya terdengar datar, namun menyiratkan kerinduan yang mendalam akan masa-masa jaya destinasi ini.
Masalah utama yang dihadapi oleh Teluk Gelam sebenarnya serupa dengan banyak destinasi wisata di Indonesia: konsistensi pengelolaan. Beberapa fasilitas fisik yang dahulu dibangun kini tampak termakan usia. Jembatan kayu yang mulai melapuk dan beberapa sudut taman yang ditumbuhi rumput liar menjadi saksi bahwa investasi besar tanpa perawatan yang berkelanjutan akan berakhir sia-sia. Padahal, di tengah tren masyarakat modern yang makin menggandrungi wisata berbasis alam (*nature-based tourism*) atau ekowisata, Teluk Gelam memegang kartu as pariwisata Sumsel. Masyarakat urban saat ini rela merogoh kocek dalam demi mencari tempat penyembuhan (*healing*) yang sepi, hijau, dan dekat dengan air. Danau ini memenuhi seluruh kriteria tersebut.

Kontras Dua Mutiara: Antara Teluk Gelam dan Danau Ranau
Membicarakan potensi wisata air di Sumatera Selatan tentu tidak bisa melepaskan pandangan dari Danau Ranau di OKU Selatan. Jika Teluk Gelam menyuguhkan ketenangan dataran rendah dengan vegetasi pohon gelamnya yang khas, Danau Ranau berdiri megah sebagai danau tektonik-vulkanik terbesar kedua di Sumatra dengan latar belakang Gunung Seminung yang anggun.
Kedua danau ini merepresentasikan dua karakter dan nasib pariwisata yang kontras di Sumsel. Dari segi aksesibilitas, Teluk Gelam sebenarnya jauh lebih unggul karena berada tepat di jalur perlintasan utama. Sebaliknya, Danau Ranau menuntut perjalanan darat yang panjang dan berliku dari pusat kota, namun terbayar oleh geliat wisatanya yang relatif lebih hidup melalui ikon Pulau Marisa, pemandian air panas, serta berbagai ajang pariwisata tahunan.
Kontras ini menjadi pelajaran berharga. Jarak geografis bukanlah penghalang utama bagi sebuah destinasi untuk tetap bernyawa; kuncinya ada pada kreativitas menghidupkan suasana dan konsistensi menjaga daya tarik.
Membuka Ruang Perubahan Kreatif
Membangkitkan kembali potensi wisata, baik di Teluk Gelam maupun Danau Ranau, tentu tidak bisa menggunakan cara-cara lama. Pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan di Sumsel tidak bisa lagi hanya mengandalkan penjualan tiket masuk di gerbang depan. Perlu ada lompatan gagasan yang segar, adaptif, dan berkelanjutan.

Konsep glamping (glamour camping) yang sedang tren di berbagai daerah, sebenarnya sangat mungkin diterapkan secara maksimal di tepian Danau Teluk Gelam maupun sudut-sudut estetis Danau Ranau. Bayangkan sebuah kawasan di mana pengunjung bisa menginap di dalam tenda-tenda mewah yang menghadap langsung ke danau, menikmati api unggun di malam hari di bawah rindangnya pepohonan, dan terbangun oleh kabut tipis yang menggantung di atas air. Ini bukan sekadar menjual tempat, tetapi menjual pengalaman hidup (*living experience*).
Selain itu, integrasi dengan narasi kebudayaan lokal bisa menjadi daya tarik tambahan yang tak ternilai. Sumatera Selatan sangat kaya dengan kerajinan tangan dan kuliner. Mengapa tidak membuat pasar terapung berkala atau festival kebudayaan yang menampilkan kain-kain tenun lokal seperti songket dan jumputan, serta kudapan tradisional di tepi danau? Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat air, tetapi juga untuk meresapi denyut nadi kehidupan masyarakat lokal Sumsel. Langkah ini tentu membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat adat setempat. Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri; mereka harus menjadi aktor utama yang merasakan dampak ekonomi langsung dari bangkitnya pariwisata ini.
Esensi yang Tak Boleh Padam
Menulis tentang destinasi seperti Danau Teluk Gelam dan Danau Ranau mengingatkan kita pada esensi dari tugas jurnalistik itu sendiri. Menulis bukan sekadar menyusun kata-kata indah agar sebuah tempat terlihat menarik di brosur wisata. Tugas kita adalah menyampaikan kebenaran tentang sebuah realitas—bahwa ada potensi raksasa milik Sumsel yang sedang merindukan tangan-tangan kreatif untuk mengelolanya dengan benar.
Dunia boleh berubah, teknologi digital boleh mendominasi cara kita berkomunikasi, dan platform media sosial bisa berganti setiap musim. Namun, daya lirik sebuah tulisan yang jujur, tajam, dan menyuarakan kepentingan publik tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma apa pun. Jurnalisme yang turun ke lapangan, yang merasakan langsung embusan angin dan mendengarkan keluh kesah warga di pinggir danau, akan selalu menemukan tempatnya di hati pembaca. Karena pada akhir cerita, tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menggerakkan perubahan.

Matahari akhirnya benar-benar tenggelam di balik cakrawala, meninggalkan warna jingga yang perlahan meredup menjadi malam. Di dalam kesunyian yang melingkupi permukaan telaga, selalu ada harapan yang menyala. Harapan bahwa suatu hari nanti, deru langkah kaki wisatawan akan kembali meramaikan dermaga-dermaganya, dan mutiara-mutiara wisata ini akan kembali menjadi kebanggaan yang bersinar terang di tanah Sumatera Selatan.




